SELAKSA ASA MEBEMBUS CAHAYA
Namaku Vina, aku siswi SMP biasa, aku bukanlah yang terpintar, tapi aku juga tidak harus menghitung perkalian dengan cakaran panjang karena ya bisa dibilang aku bukanlah yang terbodoh di kelas. Tidak ada yang berbeda dariku dengan kalian, adik kalian, atau teman kalian. Aku sama seperti mereka. Menikmati masa-masa terbaik ini tanpa beban.
Tidak seperti Kakak perempuanku yang setiap harinya sibuk dengan jerawat di atas bibir merah menyalanya.Sibuk memencetinya dengan gemas.Rusuh di kaca.Berkali-kali teriak histeris saat jerawat itu memerah setelah dipencet keras oleh dia sendiri.Tak kunjung pecah.Tapi dia kakak yang sangat baik, perhatian, dan tentunya bisa berubah jadi tante-tante sales saat aku makan banyak coklat.Menawarkan coklat yang dia jual yang katanya herbal dan tidak menggemukkan sebagai gantinya.Katanya, takut aku buntal dan obesitas.Astaga, siapapula yang peduli soal kegemukan diusia sepertiku.
Beda lagi dengan kakak laki-lakiku, sibuk dengan futsalnya.Sok gagah tiap cetak angka di lapangan.Tepuk dada sambil lari-lari tidak jelas arahnya. Melambaikan tangan, mengundang teriakan gadis-gadis di sudut sana. Aku sih mual liatnya.Kalau saja mereka tau, kakakku itu orangnya koler, pemalas, dan anak kamar macam anak perempuan. Kujamin dia tidak akan keluar dari sangkar selain 3 hal. Makan, sekolah dan futsal. Bahkan kalau tidak diomeli Ibu dia akan makan di kamar. Tapi ya… okelah.Aku akui dia kakak teromantis sedunia. Dia paling sering membelikanku hadiah tanpa alasan, menjemputku di sekolah, mengantarku les dan paling suka membanggakanku depan para fansnya –yang kumaksud gadis-gadis histeris di lapangan tadi-. Bilang bahwa aku adik termanis yang pernah ia lihat. Pret! Paling-paling dengan pacarnya pun dia bilang hanya pacarnya yang termanis.Kasihan kakak itu, mau saja ditipu kakak kolerku.
Orang tuaku harmonis.Sangat malah.Aku sampai-sampai harus tidur dengan kakak perempuanku karena aku dianggap mengganggu di kamar mereka. Apapula salahku?.Ayahku baik, tiap pulang dan kutanya ia kerja apa dia akan menjawab, “Ayah Boss!”.Halah, tapi paling pelit. Kalau aku minta jajan, Dia akan menggeleng dan bilang uang ayah ada pada Ibu. Selalu.Padahal saat tanya Ibu, katanya Ayah belum gajian. Ini yang benar yang mana?
Aku dipenghujung SMP, kelas 9.Aku sedang malas belajar padahal sebentar lagi UN. Ayah dan kakak-kakakku hanya geleng-geleng. Kalo ibu, dari dulu suka mengomel.
Aku punya banyak teman.Aku mudah bergaul. Aku sama seperti anak ceria kebanyakan. Kecuali satu.
Aku punya catatan biru yang tak dimiliki orang lain.
***
Farhan sudah menjemputku.Lagi-lagi aku telat bangun.Harus membuatnya menunggu.Nanti dia pasti ngegrundel panjang lebar di motor. Dia teman kecilku –sampai sekarang- yang baru saja dapat Mio baru, padahal belum bisa punya SIM, Cih!.Aku berteman layaknya seusia walaupun ia setahun diatasku. Oh iya, Ini hari ketigaku masuk SMA. Aku lulus.Jadi seragam yang kutunggu selama SMP dulu sudah terpakai. Ah, senangnya. Aku sudah mengganti style rambutku. Bukan, bukan kepang dua lagi, tapi sekarang kuurai saja, atau dengan bandana kecil berwarna soft atau jepit-jepit berpita manis yang kuambil secara paksa dari kotak aksesoris kakak. Paling-paling kakak melotot sebentar. Setelah kupakai dia akan memelas sambil bilang aku cantik sekali.
“Lain kali kamu telat, kutinggal!”Farhan masih mengomel sepanjang perjalanan.Iaselalu mengancamku begitu. Padahan ini ketiga kalinya aku telat dan dia selalu menjemputku.Aku tersenyum saja mendengarnya.
“Bohong, mana bisa kamu biarin aku jalan sendirian” batinku sambil terkekeh dibelakangnya.
Kami sampai disekolah pukul 7.30, terlambat.Farhan melotot, ini gara-gara aku. Aku hanya tertawa melihat ekspresinya karena dia akan tetap dengan baiknya membelaku saat kena semprot guru nanti. Farhan memang begitu, selalu.Ia teman tersabar, terbaik, tertampan, dan terngambekan yang aku miliki. Persahabatanku dengannya paling longlast.12 tahun, sejak kami lahir. Bayangkan!.
Hari ini masih freeclass walaupun sebenarnya tidak juga.Tetap ada guru di kelas tapi hanya mengabsen sebentar, mengecek apakah kami sudah berseragam lengkap dengan atributnya atau belum, lalu keluar.Maklum, kegiatan belajar mengajar belum diaktifkan.Kakak kelaspun masih santai, hanya duduk-duduk disekitar tangga lobby atau kantin.Aku pun memilih keluar kelas sebentar.Kelas pengap.Aku sudah mengenal semua teman sekelasku.Jadi untuk mengajak mereka mengobrol sebenarnya perkara yang sangat mudah, tapi hari ini aku malas bicara.Ingin sendiri atau keliling sekolah.Melihat-lihat dan menyusuri sekolah ini yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Ah iya! Ide bagus.
Aku melangkah disepanjang gedung kiri yang juga mencakup kelasku.Aku menatap sekeliling awas.Takut ada segerombolan kakak kelas.Aku masih belum berani menyapa mereka.Itu mengerikan.Jadi kuputuskan untuk melirik sebentar dan memastikan.Beruntung, tidak ada.Gedung kiri didominasi anak baru sepertiku.Baguslah.Belum ada tiga meter aku berjalan, mataku terpaku pada mading ROHIS.Disana ada pamphlet warna-warni.Aku bukan hanya meliriknya.Lebih dari itu, aku menatapnya.Mading ini paling mencolok dan menarik. Aku membaca setiap apa yang dituliskan disitu. Semuanya. Ada kolom tips agar rajin beribadah, ada kolom pemerhati remaja, ada pula peringatan bahwa bulan puasa akan segera tiba. Aku melirik pamphlet warna-warni tadi, ada event ramadhan.Disitu tertulis MABIT (malam bina iman dan taqwa). Well, baru dengar. Tapi sepertinya tidak buruk.Aku juga penasaran.Jadi kuputuskan mencopot pamphlet itu, melipatnya dan mengantonginya setelah melirik kanan kiri terlebih dahulu.
“Kok dicopot?”
Baru saja balik badan suara itu menahan langkahku.Bisa kurasakan wajahku memucat. Mati aku!
“Ahahah, kalo kamu mau, minta aja sama anak ROHIS. Kita punya banyak kok.”
Aku sudah pasrah.Berbalik.Memasang ekspresi terbaik.Senyum sajalah, ketangkap basah. Gadis manis itu juga tersenyum sambil mengangguk, tanda ia tidak marah. Kurasa ia anak ROHIS, pemilik mading ini. Terlihat dari kerudung lebar yang menutup sempurna hingga lengan dan pinggulnya.Rapih dan elegan.
“Kalau kamu tertarik pengen ikut, line aja aku. Nanti aku bantu daftarin. Ini line-ku,” Ia menyerahkan samsungnya. Dengan kode QR line dilayar tersebut. Aku ragu-ragu, Aku ikut?.
“Kalopun belum minat, setidaknya kita bisa berteman, aku kelas XI IPA 1” dia tersenyum setelah aku menerima kode QR nya dan men-scan-nya di handphoneku. Eh, sebentar. Kelas sebelas?Kakak kelas?
“Nggak usah sungkan, aku seusia kamu kok hehe, santai aja!” seakan bisa membaca ekspresiku yang mungkin kedua kalinya pucat, ia tertawa renyah. Aku kehilangan rasa takutku, kakak kelas ini tidak horror seperti di FTV, ini menyenangkan. Dia pamit untuk melanjutkan tujuannya dan mengucapkan salam. Aku membalas salamnya dan ikut berbalik kearah kelas sambil menatap nama profil line gadis tadi.
‘Aisyah.Nama yang indah.
***
Berhari-hari aku memikirkan ‘Aisyah, mading dan menyimpan pamphlet itu.Esok lusa sudah Ramadhan tapi aku masih belum tau ikut atau tidak.Aku ragu untuk mengajak ‘Aisyah ngobrol sekalipun hanya lewat line.Aku canggung dengan gadis berjilbab itu lebih tepatnya aku segan.Apalagi aku bahkan belum berhijab.Gimana ya?Aku bahkan menanyakan saran ikut atau tidak ke Farhan saat makan siang di kantin tadi, jangankan memberi saran, yang ada dia tersedak dan aku yang dia buat panik mencarikan segelas air putih.
Bertanya pada siapa?Ayah? Ibu?, Ah… aku malu. Aku bahkan jarang membaca al-Qur’an.Aku selalu kabur saat TPA dulu. Aku juga sudah menanyakan kepada kakak perempuanku, dia bahkan tertawa hampir 15 menit tanpa stop!Gila!.
Jangan ditanya kakak laki-lakiku, dia akan melampaui kakak perempuanku, bisa jadi dia salto sangking terkejutnya.
Aku memungkinkan hal terbaik yang bisa kulakukan.Aku bangkit dari temapt tidur.Insom ini kembali menyerang terlebih memikirkan MABIT itu.Aku mengarah ke lemariku, kakak sudah tertidur.Aman.Aku membongkar pakaian SMP-ku, ada kerudung kaos yang dulunya menjadi seragam saat aku SMP.Lumayan pikirku.Tidak selebar milik ‘Aisyah.Tapi ini pantas untuk pemula, pikirku.
Aku mencobanya.Mematut diri.Menggelung rambut panjangku dua kali ikat.Kemudian berbaju panjang.Entahlah, aku rasa, ‘Aisyah mengagumkan.Aku sejuk memandangnya.
Dan malam itu aku tau menyimpulkan.Memantapkan.Ya, Aku harus ikut.
Esoknya aku sudah ada di meja makan dan sarapan dengan semuanya.Aku tau, ini mungkin tepat.Duh,aku tak tau kalau ternyata izin untuk menginap MABIT ternyata lebih menegangkan dibanding bertemu kakak-kakak kelas di lobby kemarin.Aku menyeka peluh didahi, ragu-ragu.Bukankah tadi malam aku sudah yakin?
“Ma, Vina mau ikutan acara tuh”
Ha? Apa? Siapa yang bilang?Kenapa?Aku?
Aku gelagapan, Ah… punya kakak perempuan itu ternyata menyebalkan ya?Seandainya ini bukan meja makan mungkin sudah ku tarik bibirnya yang terkekeh disebelahku.Menyebalkan.Dari mana dia tau?
“Semalaman megang brosur acara, kaya meluk surat cinta aja hahaha” Kakakku yang doyan berlipstik ini memang perlu diberi pelajaran.Bagaimana kalau Ibu salah tangkap? Bagaimana kalau…
“Oh ya?Acara apa?” Ayah membuka suara. Aku menyiapkan kata-kata terbaik, bagaimana pula menjelaskannya aku sendiri tak tau itu acara apa.
“Kaya acara bulan ramadhan, Yah.Nginep 3 hari.Ijinin aja ya, Yah” Kakak menghentikan gerakan sendoknya.Menatap Papa serius.Menginap memang bukan urusan mudah. Ayah dan Ibu juga saling tatap. Ibu mengangguk.Dia bilang sejak kapan Vina suka acara berbau religi seperti itu?
Ayah mengijinkan walaupun dahinya masih berkerut tidak percaya. Kakak perempuanku sudah menyenggolku, kode dia berhasil membantuku.Kakak laki-lakiku hanya melirik tersenyum sebentar lalu sibuk dengan piringnya. Huh, dia tak berniat membantuku tadi. Tapi tak apa, pagi yang menyenangkan. Aku dapat izin MABIT dan kurasa aku tau harus menghubungi siapa.
Siapa lagi kalau bukan ‘Aisyah.
***
Aku sudah tiba di sebuah masjid besar yang menghadap kearah timur.Agak jauh dari sekolahku apalagi rumahku.Menakjubkan.Aku memandang sekeliling. Berbagai usia ada disini. Anak-anak berlarian riang, remaja sepertiku -yang memang satu rombongan denganku untuk event ini, kami berbaris rapi untuk registrasi ulang-, ibu-ibu dengan balita atau wanita-wanita berpenutup wajah, apa itu? Dalam hati banyak sekali muncul pertanyaanku. Juga ada nenek-nenek paruh baya yang susah payah membaca al-Qur’an, ini pemandangan pagi terbaik yang pernah kumiliki. Aku mulai bersalaman sambil mengantri. Berkenalan dengan yang lain. Aku merasa ternyata acara ini tidak sekaku bayanganku. Remaja-remaja ini juga sama denganku, berkerudung tipis sepundak. Kami jelas berbeda dengan ‘Aisyah yang tengah sibuk menyiapkan Nametag untuk kita. Ah, dia hebat.
Kami terpisah dengan rombongan laki-laki, mungkin tepatnya sengaja dipisahkan. Aku akan bertanya pada ‘Aisyah mengenai pemisahan ini. Banyak hal yang ingin kutanyakan.
‘Aisyah membimbing kami ke arah ruangan tempat kami akan beristirahat.Ini hari pertama ramadhan.Tidak ada makan siang.Jujur saja, aku jarang berpuasa dan Ayah, Ibu, kakak-kakakku juga tidak mempermasalahkannya.
Sepanjang hari ini sudah aku lalui dan ini mengagumkan. Aku tak pernah tau bahwa ternyata ustadz-ustadz itu tidak selamanya tua,beruban, bungkuk lengkap dengan tongkat kayunya. Disini berbeda.Aku bahkan sulit mengontrol tawaku karena kelelahan menahannya.Ustadz yang sedang mengisi didepan kami sangat berbakat sebagai pelakon stand up comedy. Bedanya tidak ada kebohongan, semua nyata! Ada buktinya.Aku juga bingung saat diperlihatkan ‘Aisyah surah yang dibaca oleh Ustadz tersebut tanpa melihat al-Qur’annya.Hapal diluar kepala.Tidak ada yang salah.Bacaan itu mengalun merasuk kalbuku tanpa ampun.Aku sedikit gentar.Ini bacaan yang sangat indah.
Tiga hari berlalu, aku seperti menjadi Vina yang baru, aku seperti pulang membawa sekarung jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku.‘Aisyah dan pemateri banyak membantu.Juga teman-teman satu kelompok yang sangat kompak dan saling perhatian. Kompak saat games lari karung, panjat tebing, makan kerupuk, berlari menghindari serangan lawan di atas pasir putih yang lembut. Saling membangukan sahur, menguatkan agar lupa akan lapar yang melilit. Berseru riang bersama menjelang berbuka, turun ke jalan-jalan sekitar masjid untuk membagikan makanan ringan kepada semua orang.Aku bahagia, bahkan sangat bahagia.Aku seperti hadir diatas awan-awan.Mengapung tentram.Aku seperti mendapat passion yang baru dan kawanan yang baru. Kami bahkan sudah merencanakan banyak hal setelah ini, semacam reuni mungkin, tapi kurasa ini tak mungkin akan berakhir.
Kini aku dalam perjalanan pulang, banyak yang ingin kuceritakan kepada kakak-kakakku, Ayah dan Ibu. Tiga hari yang kurasa berlalu tanpa celah, setiap detiknya penuh dengan ilmu yang menjawab semua pertanyaanku.Bahkan sekarang aku berpikir pertanyaanku dulu itu terlalu sederhana.Aku sudah fikirkan. Mereka harus tau pentingnya puasa, shalat, dan untuk kakak perempuanku agar ia juga berhijab sepertiku. Ya, aku sudah putuskan.Tekadku sudah setegar karang.
***
Pagi yang cerah, burung mencicit di sela ranting berembun.Satu dua bernyanyi riang.Nyanyian kedamaian.Menebar pesona sayapnya diantara makhluk tanah seperti seekor tupai yang meliriknya penuh jumawa.Seakan berisyarat, andai aku pun memiliki sayap agar bisa ikut menari di udara.Sungguh.Pagi yang terbungkus indah ini semakin membuatku ingin banyak bersyukur.
Sudah dua tahun berlalu.Dua tahun yang melesat cepat.Dua tahun perjalanan hijrah yang masih kujalani hingga sekarang.Dua tahun perjuangan.Dua tahun menjadi seperti rajawali.Mengepakkan sayap selebar mungkin.Aku memutuskan berhijab selamanya saat pulang dari pesantren ramadhan (MABIT) saat itu.Kini aku mengikuti langkah lurus ‘Aisyah. Aku berhijab sepinggang, aku mencoba tetap berkaus kaki, mencoba taat belajar mengaji, belajar apa itu agamaku sendiri. Aku benar-benar seperti haus akan perubahan. Beruntung Ayah dan Ibu tak protes. Hanya menyernyit sedikit dan tenang kembali setelah kujelaskan bahwa tempat pengajianku tidak berbahaya.Bukan jaringan teroris seperti yang mereka duga. Aku sudah sangat sering memaksa kakak laki-lakiku dan Ayah shalat tepat waktu di masjid. Ibu dan kakak perempuanku pun kuminta terus berjama’ah denganku di rumah.Memang tidak mudah. Setidaknya mereka masih mau mendengarkan apa yang aku sampaikan sesopan mungkin.
Hari ini aku akan bertemu ‘Aisyah di Perpustakaan Kota. Membicarakan konsep ramadhan mendatang.Aku memarkir sepeda motorku di Basement.Aku sudah bermotor sendiri.Farhan sudah kuliah di Jakarta fakultas tehnik kimia.Jauh sekali anak itu memilih universitas.Tapi aku lega, itu artinya aku tak harus terus bersembunyi untuk menghindari bertemu.Aku sudah cukup paham dia bukan mahromku.Harus ada jarak diantara kita.Terlebih, Farhan sempat menyatakan perasaannya padaku.Aku terkejut.Jujur, aku juga menyukainya sejak masih SD dulu.Namun karena kita berteman akrab, aku tak menyadari perasaanku lebih dari sekedar teman. Dia pun menyatakan hal yang sama. Bagus aku sudah faham tidak ada pacaran dalam islam. Jadi aku menolaknya dengan baik.Menjelaskan dampak dan hukumnya.Dia hanya mengangguk takzim sambil tersenyum.Dia bilang aku semakin bijak dan cocok jadi ustadzah. Aku hanya tertawa dan aku sadari itu pertemuan terakhirku dengannya karna saat itu juga ia berangkat kuliah ke luar kota.
‘Aisyah telah duduk di kantin perpus.Menyeduh kopi hangatnya sambil membolak-balik buku biru andalannya.Sampai sekarang aku penasaran. Ada apa di dalam catatan itu? ‘Aisyah selalu membawanya.
“Isinya apasih, Syah? Penasaran eh” aku melirik setelah mengucap salam.
“Eh, bukan apa-apa, Vin… catatan biasa.”
Sepertinya ‘Aisyah sangat terkejut.Menutup cepat buku biru itu saat aku menanyakannya.Aneh. Tapi aku berhusnudzon, mungkin itu catatan kajiannya dan saat ini ia sedang muroja’ah materi ta’lim kemarin. Belum sempat aku berpikir, handphoneku berbunyi nyaring.Ya Ampun, beruntung ini di kantin, kalau di ruang baca mungkin aku akan kena marah penjaga berkacamata tebal itu. Pikirku.
“ Halo? Assalamu’alaikum” aku mengucap salam. Dan…
Brakk!!!
Handphone itu terbanting ke lantai. Aku terpaku mendengar berita barusan.‘Aisyah berseru pelan.Kaget dan beristighfar.
“Vin?Kenapa?Kamu kenapa?”‘Aisyah telah sempurna bangkit dan menahan keseimbangan tubuhku yang hampir rubuh.Aku shock.
“Vin???”
“’Aisyah, tolong temani aku ke Rumah sakit.”
***
Aku sudah tidak peduli bagaimana tampangku saat melaju kesini. Bisa kurasakan kerudung ini sudah beda posisi, sudah tidak berpeniti –entah jatuh dimana- dan tidak simetris kanan-kiri. ‘Aisyah dengan tangkas mengantarku kesini.Aku menerobos keramaian. Ada yang menangis histeris di depan ruang mayat. Ada yang berseru cemas, menyalin jemari dan tak henti berdo’a.Aku mencari ruang UGD. Aku dapat melihat ibu dalam pelukan Ayah danmenangis tersedu.
“Dia ngobat, vin… udah lama.Tadi dia sakau dan ngiris pergelangan tangannya.Dan itu kena nadi,” kakak laki-lakiku seakan faham arti mataku yang menatapnya penuh luka.Aku sungguh tak tau kakak menyentuh dunia narkoba. Sejak kapan?.Aku menekan dadaku.Ya Robb… dadaku sesak.Sungguh.
“Dia sekarat, vin!hampir mati!!! Dan itu gara-gara aku, vin!!! Aku abai! Bodoh!!! Kakak apa aku ini!”
kakak meremas rambutnya dengan emosi meletup hingga menangis. Aku memeluknya.Menenangkannya.Tidak ada yang salah disini.Aku bahkan masih belum sadar apa yang terjadi.
Sebulan kemudian…
Ramadhan kembali.Entah mengapa setiap peristiwa penting dalam hidupku selalu tepat pada bulan Ramadhan.Aku tak mungkin lupa hari ini.Hari pertama kali aku berhijrah.3 Ramadhan. Hari ini pula aku dan ‘Aisyah berdiri di depan ruang rehabilitasi. Kakak sudah sebulan disini.Kondisinya membaik walaupun aku begitu teriris melihat tubuhnya yang semakin mengurus, kuliahnya terhambat, dan masa depannya hanya dapat diawang-awang.
Aku juga telah dijelaskan lebih dalam oleh ‘Aisyah mengenai narkoba.Hukum dan akibatnya.Keburukannya.Tak cukup disitu, ‘Aisyah juga memberikan buku catatan birunya padaku. Ah, buku itu… ternyata special sekali. Itu adalah catatan kisah hijrah ‘Aisyah, anak-anak ROHIS lainnya dan… aku!.
“Setelah ini, kamu bisa bantu kakak kamu hijrah, vin.lalu tulis disini ya. Tugasmu, vin” ‘Aisyah tersenyum.Hangat sekali.Aku merasa hatiku mekar kembali.
Tak ada lagi pilu jika sahabat itu selalu menyertaimu. Allaah sungguh benar akan memberi kebaikan kepada orang-orang yang memilih teman yang dekat denganNya.
Baiklah.
Saatnya memapah kakak kepada hidayahNya.Kuputuskan memeluk erat ‘Aisyah.Ini cukup untuk membuktikan aku sangat mencintainya.
Aku telah sempurna berhadapan dengan kakak yang memunggungiku.Punggung yang amat lelah. Mungkin beban pikiran yang ia tanggung sendiri selama ini terlampau berat. Hingga memberi banyak jerawat di wajahnya dan yang mengejutkan adalah beban itu menggelincirkannya pada narkoba dan baru kuketahui kakak juga terlibat seks bebas.Lengkap sudah, ya Robb. Ah, aku berpikir terlalu simpel selama ini. Aku pikir kakak hanya seperti remaja atau tante-tante sales cokelat herbal.Kakak telah keluar dari sosok yang kukenal.Ia berbeda. Namun mata itu, mata yang menatapku sekarang, mata yang menangis pilu, tetaplah sama. Tatapan kasih dari seorang kakak yang turut bersuka cita atas hadirku di dunia sebagai adiknya.Tatapan maaf sebagai kakak yang khilaf.
“Maaf, vin… aku sungguh minta maaf” ucapnya bergetar. Jemari meremas jemari yang lain. Jemari yang terapit di bawah perut, wajah yang menunduk dalam.Duka dan penyesalan yang berlipat.
Telak!
Kalimat maaf yang mengirisku seketika.Robb… kakakku butuh aku.Sangat.Aku merengkuh bahu bergetarnya.‘Aisyah ikut menenangkan.Aku menatap pergelangan tangan bekas teriris miliknya.Banyak sekali.Ada puluhan garis horizontal yang mengarah searah.Memerah.Kakak bisa pulang empat bulan lagi, lama sekali.Kucium ubun-ubunnya, mendo’akannya.
‘Aisyah menyeka sisa air matanya.Memecah keheningan.Tersenyum membuka bungkusan biru muda di balik tasku, mengingatkan isi bungkusan itu harusnya aku berikan pada kakak sejak tadi.
“Kakak akan cantik dengan ini,”
Aku membuka bungkusan, berusaha menstabilkan suasana.Nah, sudah cukup sedih-sedihnya.Tanpa dikomando dua kali, kakak merebut paksa.Tangannya masih bergetar.Masih sesenggukan.
“Aku akan ikuti apapun yang kamu mau, vin.Apapun!” kakak masih menangis saat membuka sehelai hijab dari bungkusanku.Aku dan ‘Aisyah menutup mulut serempak.Tangis 'Aisyah pecah saat ia putuskan keluar dari ruang rehabilitasi kakak.Aku terdiam menatap kakak yang seperti orang kerasukan mengenakan hijabnya.
“Pelan kak, pelan…” Aku sempurna menangis sekarang. Terduduk depan kakak yang juga terdiam menatap balutan hijab didepan kaca.
“Vin, aku tau aku nggak pantes make ini, aku nakal,vin! aku mesti gimana?...” kakak menangkupkan dua tangannya ke wajah. Menahan tangis yang tak kunjung reda.
“Kak, aku yang bakal bantu kakak! Kakak pantes! Siapa bilang nggak pantes? Hah?” aku bahkan berteriak sekarang. Tak peduli bahwa ternyata Ayah, Ibu, kakak laki-lakiku menyaksikan itu di depan pintu. Wajah mereka yang sayu.Menatap kami sendu.
Aku memeluk kakak untuk kesekian kalinya.Erat sekali. Kakak akan berubah setelah ini. Pasti.Tekad kakak sudah mengakar, menjalar ke nadi dan darahnya.Aku sendiri yang akan menyaksikannya. Biidznillah.

Komentar
Posting Komentar